“Celebrate Our Unity”, itulah slogan dari acara festival kebudayaan antar negara yang diadakan tadi malam (11/4) di Chancellor Hall UTP. Acara yang diikuti oleh mahasiswa UTP dari 22 negara tersebut berlangsung meriah, mulai pukul 9 sampai pukul 12 malam. Aku dan teman-teman dari Indonesia beramai-ramai datang dan mendukung adik-adik undergraduate yang akan tampil malam ini.

Acara diawali dengan sambutan dari project director ICN 2008, dilanjutkan dengan briefing singkat dari staf Health, Safety, and Environment tentang petunjuk keselamatan di dalam gedung serta lokasi-lokasi pintu keluar yang bisa digunakan.

Aksi tim Indonesia menari tari KecakIndonesia mendapatkan giliran kedua untuk tampil setelah Kamboja menampilkan Khmer dance mereka. Tim Indonesia kali ini sangat menonjolkan ragam budaya dan tempat wisatanya, berbeda dengan penampilan negara lain yang tampil dengan satu atau dua tari yang sejenis. Ceritanya ada seorang turis dari mancanegara yang bingung mau liburan kemana. Bertemulah ia dengan orang Indonesia yang memakai jarik dan surjan. Lalu, si orang Indonesia ini menjelaskan tentang Indonesia secara singkat. Pertama, ia menyebut tentang Jakarta. Lalu muncullah 3 orang abang dan 3 orang none Jakarta yang menari dengan iringan lagu ondel-ondel.

Kemudian si orang Indonesia ini menceritakan tentang Papua yang diikuti munculnya 5 orang laki-laki memakai ‘rok’ dari rumbai-rumbai rafia, menari dengan lagu-lagu khas Papua. Daerah yang diceritakan selanjutnya adalah Padang, dengan makanannya yang khas dan tari Piringnya. Muncullah dua orang gadis yang menari tari Piring. Lanjut lagi, daerah Sulawesi dengan Bunaken dan tari Poco-poconya. Rasanya aku juga pingin ikut goyang (hyaa..). Yang terakhir, si orang Indonesia tadi menceritakan Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia. Pertunjukan dari Indonesia ditutup dengan tari Kecak dan pembentangan bendera Indonesia.

Aku salut dengan usaha mereka, menyusun konsep, berburu kostum dan materi pertunjukan dari internet, dan latihan tanpa pelatih beneran. Katanya mereka berlatih tari berdasar materi yang mereka dapat dari Internet. hmm.. Salut salut.

Acara masih berlanjut dengan penampilan dari 10 negara lainnya, yaitu: Sudan, Ethiopia, Turkmenistan, Afrika Selatan, Chad, Vietnam, Malaysia, Mesir, Thailand, dan Pakistan. Semua negara menunjukkan budaya ada di negara mereka, terutama seni tari. Meski pertunjukan yang ditampilkan kadang kurang sempurna, baik dari segi kostum maupun penampilan secara keseluruhan, tapi acara tetap meriah karena terasanya semangat untuk menampilkan yang terbaik sabagai wakil dari negaranya. Apalagi ditunjang dukungan sorakan dan tepukan yang meriah dari suporter masing-masing negara.

Ada dua penampilan yang menonjol menurutku, selain penampilan tim Indonesia tentunya. Yang pertama dari Turkmenistan. Pertama, para penari yang semuanya laki-laki ini menampilkan tarian tradisional mereka yang energic dengan beberapa gerakan akrobatik. Dilanjutkan dengan break dance yang memukau. Menurutku lebih keren dari kompetisi dance di tipi-tipi Indonesia ituh :p.

Yang kedua, penampilan mahasiswa Thailand dengan kostumnya yang benar-benar total. Thailand menampilkan tari yang menceritakan budaya Loi Krathong, Festival of Light, yaitu festival yang diadakan setiap bulan purnama di bulan ke-12. Masyarakat Thailand menghanyutkan semacam ’sesaji’ dengan lilin di atasnya, sehingga sungai-sungai di Thailand tampak penuh dengan kerlip-kerlip cahaya. Tampak jahiliyah, ya? Yang jelas, dari segi penampilan keren lah. Lucunya, yang jadi dewi air, dan air-airnya adek-adek yang berjilbab semua. Dari daerah Thailand selatan mungkin ya..

Akhir acaraDi sela-sela pertunjukan, ada penyerahan hadiah bagi pemenang lomba-lomba olahraga antar negara yang sudah diadakan sebelumnya. Juga pembagian doorprize bagi yang beruntung. Satu doorprize yang menarik adalah boneka beruang yang sangat besar, mungkin tingginya lebih dari 1 meter. Hanya satu orang penonton yang berhak mendapatkannya, dan orang yang beruntung itu adalah seorang lelaki dari Sudan. Acara penyerahan hadiah itu bertambah semarak dengan iringan lagunya ‘Counting Crows’ yang berjudul ‘Accidentally in Love’.

Akhirnya acara harus berakhir. Ditutup dengan penampilan seluruh negara, menyanyikan ‘Celebrate the Day’ dan ‘Where is the Love’. Hmm.. Puas deh. Tak sia-sia mengeluarkan uang RM7 untuk membeli tiket Postgraduate.

Kata seorang temanku, “Ini pestanya negara-negara dunia ketiga”. Ya, memang benar. Ini adalah perayaan kebersamaan negara-negara dunia ketiga yang berjuang bersama untuk bisa maju dan mengharapkan dunia yang lebih baik. Let’s emerge together brothers and sisters..